Entah kapan aku mulai menyadari bahwa ternyata dia seperti seseorang yang pernah ku kenal sebelumnya. Sayangnya, aku jarang bertemu, karena kami berbeda program studi. Aku di program studi REBRISAT dan dia di program studi HUBKOM. Hanya sesekali saja bertemu. Ketika makan di kantin, ketika di perpustakaan, dan sesekali berpapasan di jalan menuju atau dari asrama MMTC.
Pernah sekali waktu, aku baru saja datang dari kos, berpapasan sama dia yang sedang lari-lari sore sendirian di lingkungan asrama. Dia hanya memakai kaos, celana pendek, dan tidak bersepatu. Dia tersenyum dan menyapaku. Aku tidak menyangka, ternyata dia tahu nama panggilanku di asrama. Dia manggil aku “teteh”. Padahal kita belum pernah benar-benar ngobrol bareng dalam waktu yang cukup lama atau berkenalan.
Tanpa disengaja aku mengetahui sedikit profilnya dari cerita teman-temanku. Dia dari Pemda Magetan dan kelahiran 1986. Dia cukup taat beragama, yang ditunjukkan dengan rajinnya salat berjamaah di Mesjid MMTC. Dia terlihat menarik ketika memakai baju koko, pakai peci dan kain sarung. Dia berbeda dengan yang lain. Dia pendiam.
Ya, hampir semua yang aku lihat dan aku tahu tentang dia sampai saat ini, persis sekali dengan yang ada pada temanku ketika aku duduk di Madrasah Tsanawiyah. Wajah, postur tubuh (walau temanku lebih pendek sedikit), sikap, prilaku, dan ketaatan ibadahnya. Apalagi ketika dia senyum, aku baru sadar ternyata senyumnya benar-benar mirip dengan temanku (karena sama-sama giginya gingsul). Dia mengingatkanku pada temanku itu, yang sudah hampir 6 tahun tidak bertemu. Di MMTC ini, aku seperti menemukan temanku yang dulu.






