BENCANA ALAM : PERINGATAN ATAU UJIAN ?

Setelah tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, negara ini seolah-olah tidak bisa lepas dari yang namanya bencana alam. Berbagai jenis bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kekeringan, angin puting beliung, angin topan, gempa bumi dan aktifnya beberapa gunung api terjadi setiap tahun. Hampir semua bencana alam ini memakan korban jiwa, disamping korban materi yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.

Kita mengenal hukum sebab akibat. Semua yang terjadi di Bumi ini pasti ada sebabnya. Begitu juga dengan bencana alam yang terjadi di bumi Indonesia. Seperti artikel yang ditulis pada websitenya WALHI yang memberi judul “Sejuta Bencana Terencana di Indonesia”, menyebutkan bahwa rusaknya lingkungan alam merupakan sumber bencana di Indonesia. Jadi jelas, bencana alam yang beruntun terjadi di Indonesia disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri yang tidak merawat alam, tapi malah merusaknya. Kasus penebangan hutan secara liar (ilegal logging) yang terjadi di hutan-hutan kalimantan dan Sumatra serta wilayah indonesia lainnya, adalah penyebab terjadinya bencana banjir, tanah longsor, kekeringan dan kebakaran hutan. Penebangan hutan yang tidak teratur dan tidak diikuti dengan penanaman kembali menyebabkan hutan menjadi gundul, sehingga daya serap air ketika hujan turun semakin kurang. Sedangkan posisi tanah tidak kuat karena tidak ada akar pohon yang menyangganya. Sebaliknya ketika musim kemarau datang akan mengalami kekeringan dan hutan mudah terbakar, karena tidak ada simpanan air yang ditampung oleh akar-akar pohon tersebut.

Kalau kita lihat dari kondisi alam Indonesia sekarang, maka kita bisa mengkategorikan bencana ini adalah sebuah peringatan bahwa alam sudah rusak, bukan ujian. Alam seolah-olah sudah murka pada penghuni bumi Indonesia, karena sudah diberi peringatan berulang kali, tapi masih saja belum dihiraukannya. Banyak hal yang harus kita perbaiki untuk mencegah agar bencana serupa tidak kembali terulang di tahun berikutnya, yaitu memperbaiki alam dan manusianya.

Alam sudah menunggu perbaikan dirinya. Manusia sebagai khalifah di muka bumi ini yang memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupannya, seharusnya sekarang mulai sadar (kalau mungkin kemarin-kemarin terlena dan lupa) bahwa alam yang tidak di rawat akan mendatangkan bencana bukan kemanfaatan, dan juga akan mengancam keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Upaya pemerintah di akhir tahun 2007, yaitu menggalakan penanaman seribu pohon merupakan salah satu program atau kegiatan positif yang dapat memperbaiki kondisi alam ini. Kita patut bersyukur, dengan adanya program tersebut diharapkan dapat membangun pola fikir generasi-generasi bangsa ini untuk mencintai alam disekitarnya. Dari sejak dini mereka harus dibekali pengetahuan akan pentingnya menjaga kondisi alam, apa saja yang akan terjadi jika alam ini rusak, dan hal-hal apa saja yang bisa mereka lakukan untuk ikut melestarikan alam tersebut.

Program Tanam Seribu Pohon ini diharapkan tetap berlanjut digalakan sampai ke pelosok-pelosok desa untuk mengembalikan fungsi hutan-hutan desa yang sudah mulai gundul. Selain itu, pemerintah sebagai pimpinan di negeri ini, diharapkan mampu bersikap tegas kepada orang-orang yang jelas-jelas telah merusak kondisi alam Indonesia yang dulunya subur makmur ini. Tentunya semua upaya tidak akan berhasil jika tidak ada kerjasama dari semua komponen bangsa, dan walaupun perbaikan alam ini tidak bisa kita rasakan hasilnya dalam waktu dekat, tapi paling tidak kita berharap anak cucu kita tidak mengalami bencana serupa, kalau dari mulai sekarang alam ini sudah kita perbaiki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s