SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA

From: Prihadi, Setiawan

[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.

Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam,
menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan
sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama
tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian
kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau
mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu
tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk
diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya.
Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan
mencarinya dari orang lain.

[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.

Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia
mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain
untuk berbicara. Seorang suami -misalnya-ketika pulang ke rumah dan
bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan
waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal
sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga
ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk
berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu
perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah
dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti
ceritanya dilanjutkan lagi.

Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya
itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya
dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai,
kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.

[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.

Allah berfirman. “Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah,
dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,”
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya,
menerangkan tentang ayat : “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah”.
Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan
hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar
belakang…. ….dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah
mendarah daging…… ..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi
dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi
dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif
antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar
orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu
tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap
mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh
bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita
dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak
akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan
apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang
sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya,
tentu akan berbeda tanggapannya.

[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan
Penghormatan Kepada Orang Lain.

Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang
yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda.
Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di
masjid…… namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi.
Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari
pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah.
Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal
yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang
lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali
dan hindarkan.

Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal
seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita
diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya.
Karena-mungkin- orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika
kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak
menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita
ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi
banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya,
dan ada kemungkinan- kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan
baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita
dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.

Allah berfirman.

“Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan
perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]

[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain
Untuk Maju.

Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju,
berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu
tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti
ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi
mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada
kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus
berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda
dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari
dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya
dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.

[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka
Membalas Kebaikan.

Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau
balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan
tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan
membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.

[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain
Tanpa Melukai Perasaannya.

Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak
menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang
diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang
memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi,
sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut.
Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya.
Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut
disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.

Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat
disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan
perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi
atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai
perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.

Posted by: “Suarsa, Roni” SUARSARA@YANPET.SABIC.com
Fri Feb 8, 2008 4:41 am (Milis urang sunda)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s