Pelatihan Kompetensi Pedagogik UIN Suka Yogyakarta

Pelatihan Kompetensi Pedagogik yang berlangsung selama 8 hari pendidikan di ruangan, dibagi menjadi 4 bagian pembelajaran yaitu desain konten, kompetensi, strategi dan evaluasi. Desain Konten mata kuliah membahas bagaimana membuat konsep map mata kuliah untuk mempermudah memahami keterkaitan antar konsep yang ada dalam mata kuliah tersebut. Desain Kompetensi, yaitu merumuskan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Indikator yang ingin dicapai dari mata kuliah selama satu semester. Desain Strategi yaitu mempraktikan berbagai strategi pembelajaran mulai dari model lecturing (ceramah) sampai 18 model pembelajaran active learning. Terakhir, Desain Evaluasi yaitu membahas berbagai model tes yang sebaiknya dilakukan untuk mencapai kompetensi yang sudah dirumuskan diawal. Empat komponen di atas merupakan sebagian komponen yang ada dalam course outline. Dan UIN Suka mengadakan pelatihan ini semata-mata untuk tujuan mencapai kompetensi seorang dosen yang profesional, yang akan membantu memperbaiki kualitas pendidikan yang terjadi selama ini di Indonesia.

Pada desain konten, seluruh peserta diminta untuk mendesain konsep map masing-masing mata kuliah yang diampunya. Saya membuat konsep map untuk mata kuliah struktur data. Awalnya sangat sulit menggambarkan isi mata kuliah dalam konsep map. Namun, setahap demi setahap dari mulai draft I sampai draft III, saya berhasil melakukannya. Setelah itu, kami dibagi dalam kelompok kecil dengan anggota 12 orang setiap kelompoknya, untuk mempresentasikan hasil desain konsep map draft II. Presentasi ini sangat bermanfaat karena jadi banyak masukan atas desain map kita, sehingga terbentuk draft III.

Tahap selanjutnya yaitu merumuskan kompetensi mata kuliah struktur data. Perumusan kompetensi ini ternyata sangat penting, dan saya baru mengetahuinya sekarang setelah pelatihan ini. Kompetensi yang terjabarkan dengan rinci dengan indikator yang measurable akan membantu dosen menentukan jenis strategi maupun evaluasi yang akan dilakukan selama perkuliahan. Selain itu, mahasiswa pun akan mendapat informasi yang komprehensif mengenai kompetensi mata kuliah yang dia ambil, karena kompetensi ini terdapat dalam couse outline yang diberikan kepada mahasiswa.

Konten dan kompetensi yang sudah berhasil didesain, harus kami presentasikan dengan model lecturing. Inilah yang harus saya sampaikan dalam micro teaching I, seolah-olah kita menyampaikan kuliah pada pertemuan pertama. Saya mengalami pengalaman menarik pada saat micro teaching I ini. Karena waktu yang terbatas yaitu 10 menit, dan harus mengajar di depan para dosen, ketika praktik micro teaching tiba-tiba intonasi suara saya jadi gemetar, dan suara jadi terputus-putus tanpa saya sadari. Sehingga setelah selesai, saya baru sadar setelah diberi komentar oleh teman-teman dosen yang lain. Bahkan sempat diberi trik bagaimana caranya agar tidak grogi atau gugup ketika bicara di depan. Begitu besar perhatian dari teman-teman untuk perbaikan saya di micro teaching selanjutnya.

Desain konten dan kompetensi yang baik tidak akan berhasil sesuai yang diharapkan, jika tidak menggunakan strategi pembelajaran yang tepat pada saat penyampaian materinya. Oleh karena itu, saya sangat bersyukur dapat mendapatkan pengetahuan tentang 18 jenis strategi pembelajaran active learning seperti power of two, active knowledge sharing, information search, card sort, index card match, reading guide, every one is teacher here, point counter point dan sebagainya. Selama ini saya hanya menggunakan model lecturing, tapi setelah mengetahui model active learning, saya bisa memilih alternatif strategi pembelajaran selain model ceramah. Saya juga baru tahu, ternyata mata kuliah teknik pun bisa menggunakan model active learning.

Kalau pada micro teaching I menyampaikan konsep map konten dan kompetensi dengan model lecturing, maka pada micro teaching II kami harus menyampaikan salah satu materi kuliah yang ada dalam konsep map dengan menggunakan salah satu strategi dari active learning. Oleh karena itu pada micro teaching II ini saya mengambil materi tipe data dengan menggunakan strategi reading guide. Saya memilih strategi ini dengan pertimbangan materi yang saya sampaikan adalah materi baru dan peserta kuliahnya adalah para dosen dari berbagai disiplin ilmu. Alhamdulillah, pada micro teaching II ini saya sudah bisa lebih tenang dan tidak gemetar lagi suaranya dibanding micro teaching I. Walaupun sebenarnya pada saat itu kondisi kesehatanku kurang begitu fit. Dari micro teaching II saya mendapat masukan dalam pembuatan lembar penuntunnya yang masih menyulitkan peserta kuliah. Oleh karena itu, saya harus belajar lagi untuk memperbaikinya agar nanti ketika perkuliahan yang menggunakan strategi yang sama bisa membuat lembar penuntun yang benar-benar mempermudah mahasiswa memahami materi baru yang diberikan.

Konten, Kompetensi dan Strategi sudah kita desain. Dan saatnya kita menentukan model evaluasi yang akan kita berikan untuk mencapai kompetensi yang sudah ditentukan. Selama ini saya hanya menggunakan tes essai/uraian ketika UTS/UAS. Sepengetahuan saya, tes yang tepat di perguruan tinggi hanya berupa essai, karena model tes essai lah yang paling sering saya terima selama kuliah S1. Tapi setelah pelatihan ini saya jadi mengetahui bahwa ternyata jenis tes itu banyak sekali dan semuanya ada tujuan, kelebihan dan kekurangan serta bagaimana mengkontruksinya. Dan ketika menggunakan tes model essai, dosen seharusnya menuliskan nilai maksimal dari masing-masing soal. Hal ini yang selama ini sangat jarang dilakukan oleh para dosen. Selain itu, dosen pun harus membuat marking scheme atau skema penilaian yang jelas dari setiap jawaban soal essai. Sehingga akan mempermudah dosen dalam memeriksa hasil ujian dan tingkat objektifitas akan tetap terjaga. Dosen pun dapat menghemat waktu ketika ada komplain dari mahasiswa, hanya dengan menunjukan marking scheme yang sudah dibuat, dan meminta dia mencocokan jawabannya dengan kunci jawaban marking scheme.

Selain evaluasi berupa soal essai, pilihan ganda, benar-salah, melengkapi, menjodohkan dan jawaban singkat, ternyata ada lagi evaluasi lain yang bernama evaluasi alternatif. Ada 10 jenis evaluasi alternatif yang bisa digunakan yaitu progress-report, kehadiran, presentasi, performance (sikap pada mata kuliah), participation (keaktifan di kelas), paper, praktik, project (mini riset), portofolio dan proposal-writing. Dan ketika kita menggunakan evaluasi alternatif sebagai salah satu unsur penilaian hasil belajar, maka kita harus menentukan kriteria dan standar penilaian yang digunakan, agar mahasiswa secara jelas dapat memahami apa saja yang menjadi penilaian dalam tugas tersebut.

Akhir kata, saya merasa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya dalam mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkuliahan, dari mulai mendesain konten, kompetensi, menentukan strategi yang akan digunakan, dan menentukan jenis evaluasi yang akan diberikan. Sehingga akhirnya saya bisa membuat course outline lengkap yang selama ini belum pernah saya lakukan. Terima kasih kepada UIN Suka, khususnya tim CTSD yang telah memfasilitatori kegiatan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s