Film Ketika Cinta Bertasbih, Memukau !

Film yang diangkat dari sebuah Novel Best Seller se-Asia Tenggara “Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburrahman El Syirazy (Kang Abi) ini, diawali dengan proses casting yang panjang dan ketat, serta proses lobi dengan negara Mesir sebagai lokasi shoting utamanya. Film ini juga disebut-sebut menelan biaya produksi yang cukup besar. Tapi semua itu tidak sia-sia, karena hasilnya memang luar biasa. Film yang sangat nyaman untuk ditonton oleh siapapun, penuh nilai-nilai pendidikan dan moral. Kang Abi yang juga ikut main dalam film ini, memang novelis yang pintar dalam mengemas masalah cinta dengan apik. Film seperti inilah yang sudah lama dinantikan oleh para pecinta film tanah air yang mayoritas muslim. Film ini juga menjadi kebanggaan Indonesia, karena serentak diputar di 8 negara.

Film ini menceritakan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir dalam menyelesaikan kuliahnya di Al-Azhar yang sudah hampir sembilan tahun. Mahasiswa yang bernama Khoirul Azzam ini, harus bekerja keras menggantikan posisi ayahnya membiayai hidup keluarga dan adik-adiknya di Indonesia. Sehingga kuliahnya terbengkalai, karena sehari-harinya malah digunakan untuk membuat tempe dan berjualan bakso, juga menerima pesanan dari kedutaan RI di Mesir. (Cerita selanjutnya, silahkan nonton Film nya. Rugi lho kalau ga nonton!)

Film yang didukung dengan sound effect khas Mesir yang digabung dengan musik karya Anto Hoed dan Melly Goeslow terasa begitu hidup dan menyatu dengan setiap adegannya. Para aktor pemula juga menunjukkan performa acting terbaiknya dengan pelafalan bahasa arab dan inggris yang fasih. Kualitas angle pengambilan shot, tentunya tidak lepas dari pengalaman sang sutradara, Khoirul Umam. Sungguh sebuah film yang berbeda dengan film-film Indonesia sebelumnya.

Film ini mengajarkan bagaimana kita melakukan hubungan antara laki-laki dan perempuan yang menjunjung tinggi kesucian masing-masing. Bagaimana menyikapi masalah cinta dengan penuh tatakrama, dan pengelolaan emosi yang sangat baik. Semoga film ini dapat menjadi obat dan solusi bagi masalah cinta dan pergaulan bebas di kalangan generasi muda yang menghantui masyarakat Indonesia sekarang ini. Selain itu, dalam film ini juga memperlihatkan bagaimana seorang perempuan anak tunggal Kiayi diberi kebebasan untuk kuliah sampai jenjang S2 di Mesir. Sebuah gambaran yang sangat kontras dengan film “Wanita Berkalung Sorban”, dimana wanita dikekang untuk belajar dan berkembang. Secara tidak langsung, ini menunjukan kesetaraan gender. Saya yakin siapapun tidak akan menapikan kebenaran yang diungkap dalam film KCB. Semoga juga para sineas Indonesia lebih banyak memproduksi film-film berkualitas yang penuh makna dan manfaat bagi kecerdasan anak bangsa.

Sayangnya filmnya selesai dengan cerita menggantung. Kami sangat penasaran ingin menonton KCB 2-nya. Ayo, Sinemart segera produksi lagi film KCB 2-nya, biar kami tuntas menontonnya. Kapan nich akan diputar kelanjutannya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s