Televisi untuk Mencerdaskan Bangsa

Perkembangan Televisi yang begitu pesat di Indonesia, tidak dapat dipungkiri menimbulkan dampak positif dan negatif bagi masyarakat. Dampak negatif dirasakan lebih besar prosentasenya dibanding dampak positifnya. Salah satu dampak negatifnya adalah masyarakat jadi kecanduan menonton kotak ajaib ini (sebut televisi), terutama anak-anak. Menurut Drs Hadi Supeno, M.Si, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, jumlah jam menonton TV pada anak sudah terlalu tinggi, mencapai 1.600 jam setahun, padahal waktu belajar mereka di sekolah hanya 750 jam setahun.

Jumlah jam yang begitu banyak dihabiskan anak-anak di depan televisi, berpengaruh buruk bagi perkembangan mentalnya. Hal ini mengingat isi tayangan TV yang kurang sehat dan tidak aman bagi anak. Menurut Fetty Fajriati, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Pusat, yang termasuk dalam tayangan anak-anak yang tidak sehat adalah kekerasan, mistik, pornografi, dan pengaruh negatif.
Misalnya saja,
akibat sering menonton acara TV yang bertema kekerasan, menyebabkan terjadinya bentuk-bentuk kekerasan di sekolah.

Sebenarnya ada beberapa acara khusus untuk anak yang penuh nilai pendidikan, seperti yang disiarkan oleh Trans 7 di siang hari pada jam anak pulang sekolah. Acara tersebut diantaranya Si Bolang, Laptop Si Unyil dan Surat Sahabat. Selain itu, ada juga acara star kids di ANTV setiap pagi. Namun, acara khusus anak seperti ini masih sedikit sekali porsinya. Padahal, acara-acara inilah yang seharusnya dikonsumsi oleh anak.

Beberapa acara pendidikan yang disiarkan TVRI Nasional, sebenarnya sangat baik bagi pembelajaran anak-anak usia sekolah berbagai jenjang. Sayangnya, TVRI Nasional tidak bisa ditonton oleh semua daerah. Seperti di kampungku, desa terpencil di Kabupaten Tasikmalaya, kami tidak bisa menonton TVRI Nasional. Sehingga, anak-anak tetap saja menonton TV Swasta Nasional yang kualitas acaranya sungguh jauh dari yang diharapkan.

Kekhawatiran akan pengaruh buruk televisi terhadap anak, disikapi secara kritis dengan adanya gerakan nasional HARI TANPA TV (HTT). HTT diadakan sejak tahun 2006 di Jakarta. Peringatan ini terkait dengan perayaan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli. Tahun ini, HTT diperingati secara nasional pada hari Minggu 26 Juli 2009.

HARI TANPA TV, artinya sehari tidak menonton TV. Fokus gerakan ini adalah perlindungan terhadap kepentingan terbaik anak. Anak-anak semestinya dapat merasakan, hidup bisa lebih bernilai ketika lebih banyak kegiatan yang dilakukan secara bersama, ketimbang menonton televisi. Pengalaman seperti ini sangat penting dimiliki oleh semua anggota keluarga, untuk meyakinkan bahwa hidup tetap menyenangkan tanpa harus tergantung pada TV. Hari TANPA TV mengajak kita semua untuk mengurangi menonton TV dan memanfaatkan waktu untuk kehidupan yang lebih berkualitas. Sebagai kegiatan tahunan, pelaksanaan kegiatan seperti ini diharapkan akan terus berkembang di masyarakat.

Selain gerakan HTT yang dilakukan setiap tahun, ada juga alternatif yang bisa dilakukan untuk mengurangi acara yang tidak bermutu, yaitu dengan tidak menontonnya. Menurut salah seorang pengurus Asosiasi Jurnalis Televisi Seluruh Indonesia (AJTSI), jika masyarakat tidak menonton, rating acara yang bermasalah itu akan turun, sehingga acara itu pun dihentikan karena tidak ada agen iklan yang bersedia memasang siaran niaga pada jam acara tersebut. Itulah gambaran nalar para pelaku awak televisi kita yang dengan gampang mempertaruhkan rating, sehingga terciptalah cara pandang yang simplistis ini: tayangan menciptakan rating dan sebaliknya rating pun menentukan tayangan. Dengan cara pandang seperti ini, mereka mengabaikan aspek-aspek lain di luar logika komodifikasi tayangan, semisal dampak visualisasi rekaan televisi terhadap proses pembelajaran sosial.

Pemahaman yang menyederhanakan itu memperlihatkan betapa rendah kualitas para awak televisi, sekaligus merefleksikan jejak sejarah industri televisi di tanah air. Menurut Sunardian dalam bukunya yang berjudul “Matikan TV-Mu”, industri televisi lahir dengan latar belakang yang berbeda dengan surat kabar dan radio. Surat kabar yang berkembang pada awal abad ke-20, membawa semangat penyadaran untuk menentang kolonialisme. Begitu pula radio pada era 1940-an tumbuh dengan misi perjuangan. Tetapi, televisi swasta pada akhir dekade 1980-an lahir karena ‘kecelakaan.’ Ia dipaksakan ada, tanpa perencanaan matang, sekedar memenuhi ambisi kroni-kroni penguasa pada saat itu.

Dari gambaran suram acara-acara TV tersebut, mestinya kita tetap optimis, bahwa seiring peningkatan tingkat pendidikan masyarakat, maka mereka akan lebih cerdas dalam memilih tayangan televisi, sehingga apa yang diharapkan Haryadi Baskoro, S.Sos, MA., M.Hum dalam artikelnya yang dimuat Kedaulatan Rakyat 23 Juli 2009, yaitu televisi menjadi alat yang sangat efektif untuk mencerdaskan bangsa dapat terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s