Persoalan Etika di Media Televisi

Dunia jurnalisme televisi di Indonesia semakin berkembang. Namun perkembangan itu masih menyisakan persoalan, khususnya masalah etika. Etika sering diabaikan hanya demi keberlangsungan suatu media agar tidak ditinggalkan pemirsanya. Hal tersebut terkadang menggiring media masuk pada kecenderungan menampilkan sesuatu yang spektakuler dan sensasional bahkan dramatis, yang justru kurang beretika.

Ada 3 hal utama yang menjadi persoalan penting dalam etika penyiaran di media televisi, yaitu kevalidan dan manipulasi informasi, kekerasan dan pornografi.

Manipulasi dan Kevalidan Informasi

Hukum persaingan menuntut media agar selalu menampilkan informasi terbaru atau aktual. Aktualitas menuntut kecepatan dalam pengorganisasian kerja peliputan. Selain itu, ada anggapan bahwa informasi yang baik adalah jika didapat secara langsung, yaitu melalui peliputan langsung, siaran langsung, reportase langsung dari tempat kejadian dan informasi dari sumber pertama. Hal-hal tersebut di atas inilah yang menyebabkan media terkadang mengabaikan kevalidan informasi yang disiarkannya.

Tekanan utama untuk segera menyampaikan informasi, meskipun keliru, menjadi obsesi media televisi. Godaan besar yang selalu mengganggu media adalah lebih baik segera menyampaikan informasi kepada publik, baru kemudian dicek kebenarannya, daripada basi atau sudah disampaikan lebih dulu oleh stasiun lain. Masalah kevalidan inilah yang menimpa TV One dan Metro TV ketika menyiarkan langsung penyergapan teroris selama 18 jam di Temanggung yang diduga Noor Din M Top, tapi ternyata yang benar adalah Ibrohim.

TV One dan Metro TV selama beberapa waktu menyampaikan informasi yang tidak benar kepada masyarakat tentang teroris yang tewas di Temanggung. Namun akhirnya, kedua stasiun televisi tersebut harus meminta maaf kepada masyarakat dan mengklarifikasi ketidakvalidan informasi yang mereka siarkan, setelah Mabes Polri menyatakan bahwa yang tewas adalah Ibrohim, bukan Noor Din M Top.

Kasus lain adalah ketika SBY berpidato tentang ancaman teroris, ada media televisi yang dianggap memanipulasi pidatonya. Hal itu, karena ada bagian pidato yang dihilangkan, sehingga menimbulkan kesalahan persepsi dari publik dan pertanyaan dari banyak pihak. Akhirnya presiden mengklarifikasi bahwa itu dimanipulasi, dan diputarkan ulang keseluruhan isi pidatonya tersebut.

Kekerasan

Berbagai bentuk kekerasan merajalela di televisi tanpa ada struktur kuat yang melawannya. Kekuatan moral bahkan agama seperti kehabisan akal untuk menangkalnya. Kekurangpedulian para pendidik, agamawan, orang tua, politikus, atau organisasi profesi semakin melemahkan nilai-nilai etika komunikasi. Tidak aneh, jika berita kriminal pun dijadikan satu program khusus yang disiarkan setiap hari, seperti Buser di SCTV dan Sergap di RCTI.

Kekerasan ternyata tidak mesti dalam bentuk fisik, tetapi bisa juga menghancurkan dasar kehidupan seseorang. Sasarannya bisa psikologis seseorang, bisa cara berfikirnya, dan afeksinya. Tapi mengapa kekerasan di media tidak selalu memancing reaksi penolakan atau protes, tapi kadang bisa memikat?

Kekerasan dalam film, berita, iklan, dan bentuk siaran lainnya menjadi bagian dari industri budaya yang tujuan utamanya ialah mengejar rating program tinggi dan sukses pasar. Program yang berisi kekerasan sangat jarang mempertimbangkan aspek pendidikan, etis, dan efek traumatisme penonton. Apalagi ada anggapan bahwa tidak semua kekerasan jelek, makin mempersulit pemilahan mana yang mendidik dan mana yang merugikan atau distruktif.

Televisi sekarang makin berani menampilkan sesuatu yang menyeramkan seperti kasus pembunuhan mutilasi yang semakin marak terjadi di Indonesia. Berita penyiksaan dan pelecehan seksual tawanan perang di Irak pun tergambar di layar kaca. Selain itu, berbagai bentuk kerusuhan, tawuran, demo brutal dan pembunuhan yang membabi buta di Amerika juga jelas terlihat, sehingga bisa saja mempengaruhi seseorang untuk meniru perbuatan tersebut.

Media tidak sadar terhadap bahaya yang timbul dari tayangan kekerasan.  Padahal menurut salah satu hasil penelitian di Amerika, kekerasan di media dapat meningkatkan perilaku agresif, ketidakpekaan terhadap kekerasan dan penderitaan korban, dan menciptakan rasa takut yang akibatnya menciptakan representasi yang keliru tentang dunia lingkungannya.

Pornografi

Selain kekerasan, konten berbau pornografi juga marak terlihat di televisi. Berita-berita pencabulan ayah terhadap anaknya, guru pada muridnya dan kasus-kasus mesum para politisi marak menghiasi layar kaca Indonesia.

Beberapa argumen penolakan terhadap pornografi yaitu perlindungan orang muda atau anak-anak, mencegah perendahan martabat perempuan, dan mencegah sifat subversifnya yang cenderung menghancurkan tatanan nilai seksual keluarga dan masyarakat.  Pornografi dikhawatirkan akan mengganggu psikis dan kekacauan dalam perilaku yang mirip dengan bila mereka mengalami pelecehan seksual. Namun, semua itu tidak cukup mampu untuk menghentikan tayangan pornografi di televisi.

Untuk menghadapi 3 persoalan etika di media televisi di atas, yang menjadi kunci adalah adanya sikap kritis dari masyarakat dan tanggung jawab moral dari para jurnalis serta pemilik media penyiaran dalam menentukan kebijakan dalam membuat sebuah program sesuai kode etik jurnalistik dan Standar Program Siaran (SPS) yang sudah ditetapkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Para pelaku media penyiaran televisi mesti menyadari dan peduli dampak yang akan ditimbulkan dari semua program yang mereka tayangkan, karena televisi memiliki pengaruh/efek yang dahsyat terhadap publik. Selain itu, mereka mesti kembali pada idealisme media yaitu memberikan informasi yang benar, berperan sebagai sarana pendidikan, dan membawa masyarakat untuk memiliki sikap kritis, kemandirian dan kedalaman berfikir.

Sumber:

Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi Manipulasi Media, Kekerasan dan Pornografi. Kanisius. Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s