Catur dan Sepak Bola Terkalahkan

Fahmi, nama panggilannya. Aku tahu persis masa kecilnya, karena memang sejak usia 1,5 tahun tinggal di rumah kedua orang tuaku. Aku menyayanginya seperti adiku sendiri, maklum aku tidak punya saudara laki-laki.

Ketika duduk dibangku Sekolah Dasar, dia menyukai berbagai jenis olahraga, seperti sepak bola, bulutangkis, dan catur. Kesukaannya bermain catur membawanya menjadi perwakilan dari sekolah untuk mengikuti perlombaan sampai ke tingkat kabupaten.

Olahraga lain yang sangat digilainya adalah sepak bola. Dia suka bermain sebagai kiper. Sampai-sampai minta dibelikan kaos tangan kiper, bola dan sepatu sepak bola seperti pemain sepak bola biasanya. Sebuah keinginan yang dianggap berlebihan bagi anak yang tinggal di kampung, desa terakhir di Tasikmalaya bagian selatan. Orang tuaku pun mengabulkannya. Halaman sempit rumahku jadi tempat latihannya setiap hari. Dia hanya berlatih sebagai kiper, dengan berbagai gaya penyelamatan bola layaknya para pemain lapangan hijau di televisi. Tak jarang bola yang disepak temannya mantul dan jatuh ke kolam ikan tepat di depan dan samping rumahku. Temannya dipaksa untuk mengambil bola itu dari kolam ikan.

Selepas lulus SD, dia dikirim orang tuaku ke salah satu pondok di kota Tasikmalaya, dan masuk sekolah MTs (setingkat SLTP) di sana. Hobi bolanya ternyata berlanjut. Bahkan dia mengikuti salah satu klub sepak bola di kota Tasikmalaya. Dia menyisihkan uangnya untuk membayar iuran latihan sepak bola setiap minggu di klub tersebut. Dia sangat terobsesi pada Cristiano Ronaldo dan ingin memiliki kemampuan men-drible bola seperti pemain bola berjuluk CR7 (ketika main di Manchester United) itu.

Suatu hari, sesuatu yang membuatku dan keluarga kaget adalah ketika kelas 3 MTs dia bilang sudah membeli handphone dengan harga 2 jt, yaitu Nokia N70. Kami mengintrogasinya, dari mana ia punya uang sebanyak itu. Ternyata dia menyisihkan dari uang jajannya setiap bulan dari sejak kelas 1 MTs, dan ditabungnya di sebuah Bank. Dia tahu kalau minta ke orangtuaku tidak mungkin dibelikan, maka dia berinsiatif untuk menabung.

Setelah beberapa bulan dia memiliki handphone itu, dia bilang akan menjualnya dengan harga 2,5 jt. Wow, sesuatu yang jarang terjadi. Dia bisa menjual HP dengan harga yang lebih tinggi dari harga belinya. Dia bilang sudah bosan dengan HP itu, boros pulsa. Dia kembali memasukan uang itu ke tabungannya.

Beberapa bulan kemudian, dia bilang sudah beli iPod yang harganya lebih murah untuk mutar musik. Ternyata iPod nya pun tidak bertahan lama. Dia kembali menjualnya.

Dan ketika sekarang dia duduk di kelas 1 MAN (setingkat SLTA), dia bilang ingin beli laptop atau blackberry. Dia bilang tabungannya sudah cukup. Hal ini, mungkin karena sekarang dia sudah kenal internet dan seperti orang lain terkena magnet facebook.

Melihat kondisi ini, kami mencoba menasihatinya untuk tidak membeli dulu laptop maupun blackberry. Menurut hemat kami, dia belum membutuhkannya. Apalagi alasan dia hanya sekedar ingin bebas ber-facebook ria. Kami khawatir dia kecanduan internet dan terbawa oleh dampak-dampak buruknya, karena belum punya dasar yang kuat. Dan alhamdulillah, dia masih mendengar nasihat kami.

Sebenarnya kami bangga dia dapat memenuhi sendiri apa yang menjadi keinginannya tanpa harus meminta ke orang tua. Tapi dia hanya berdasar pada keinginan yang lebih dipengaruhi oleh trend teknologi saat itu, bukan kebutuhan. Dan jika melihat apa yang sudah dilakukan sebelum-sebelumnya, sebenarnya dia hanya ingin merasakan memiliki sendiri barang itu seperti orang lain. Ketika sudah merasakannya, maka dia akan cepat bosan dan akhirnya menjualnya lagi.

Entah ingin apalagi dia, kalau keinginannya memiliki laptop atau blackberry sudah tercapai. Dia sangat cepat mengikuti setiap perkembangan teknologi, sesuatu yang tak kusangka sebelumnya. Teknologi dapat mengalahkan hobinya bermain catur dan sepak bola. Mungkinkah ini gambaran anak yang hidup di era teknologi informasi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s