Si Mungil Penuh Arti

Handphone ku berbunyi menandakan adanya SMS yang masuk. Aku meraihnya, dan membuka sms tersebut. Ternyata SMS itu berasal dari keponakanku yang kelas 3 SLTP. “Bi, minta tolong buatin cerita tentang Jogja, tapi dalam bahasa inggris”, demikian isi SMS tersebut.

SMS senada bukan satu atau dua kali dikirim keponakan-keponakanku. Aku di Jogja dan keponakan-keponakanku di Tasikmalaya dan Ciamis. Mereka tidak segan-segan mengirim SMS, ketika menemukan kesulitan pada tugas-tugas sekolahnya. Tidak hanya yang dibangku SLTP, keponakanku yang masih duduk dibangku kelas 6 Sekolah Dasar pun sering mengirim SMS tentang materi pelajaran yang tidak difahaminya. Bahkan, kakakku pun yang memiliki anak keluas 2 SD, pernah mengirim SMS, menanyakan maksud tugas yang diberikan pada anaknya. Dimana materi-materi pelajaran anak Sekolah Dasar sekarang, jauh berbeda dengan masa SD ku tahun 1991-an. Maklum kakakku hanya lulus Sekolah Dasar. Dan mereka tinggal di kampung.

Dengan senang hati aku bantu mereka sekemampuanku. Aku senang bisa tetap berkomunikasi dengan mereka walaupun jarak kami berjauhan. Hal ini berkat adanya teknologi handphone yang semakin terjangkau.

Tak pernah terbayang sebelumnya, ternyata handphone bisa membuatku dapat membantu keponakan-keponakanku dalam belajar. Aku bisa terus memotivasi mereka untuk belajar lebih giat. Mereka yang sekolah di kampung, belum dapat menikmati kemudahan informasi yang dapat diakses oleh anak-anak di perkotaan. Buku-buku sumber belajarpun masih terbatas.

Masih terkenang dalam memori ketika di kampungku belum ada sinyal handphone. Waktu itu tahun 2006 (baru ada tower indosat dibangun sekitar tahun 2007). Ketika aku pulang, handphone ku mati. Teman-temanku tak bisa menghubungiku. Dan yang paling menyedihkan, ketika aku kehilangan kesempatan untuk presentasi dalam pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat kopertis wilayah V di Yogyakarta. Hal tersebut disebabkan pihak kampus tidak dapat menghubungiku pada saat aku masih di kampung setelah gempa 27 Mei 2006, karena memang tidak ada sinyal handphone di kampungku. Aku pulang kampung karena aku kira ada perubahan jadwal presentasi karena ada gempa di Jogja, tapi ternyata tidak berubah, yaitu tetap tanggal 2 Juni 2006 (kalau tidak salah ingat).

Semua kenangan pahit karena belum adanya sinyal handphone, sudah berlalu. Dan kini aku bersyukur, karena hampir semua keluargaku sudah mampu memiliki handphone. Si mungil bernama handphone ternyata begitu berarti. Handphone dapat menghubungkan orang-orang di era informasi ini yang tinggal berjauhan terus bisa berkomunikasi, dan bagiku, adanya handphone dapat membantu keponakan-keponakanku dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s