Aku dan Disabilitas

Awalnya saya bukan orang yang peduli akan masalah disabilitas, apalagi fasilitas publik untuknya. Namun, perkenalan saya dengan Ibu Andayani (Dosen Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga) akhir tahun 2008 dan kartunet (www.kartunet.com), membawa saya mengenal isu-isu disabilitas melalui lembaga yang dipimpinnya yaitu PSLD (psld.uin-suka.ac.id). PSLD (Pusat Studi dan Layanan Difabel) merupakan salah satu lembaga di UIN Sunan Kalijaga (www.uin-suka.ac.id) yang konsen dalam memperjuangkan hak-hak mahasiswa difabel di UIN Sunan Kalijaga yang merupakan kampus inklusi.

Sebagai kampus inklusi, UIN Sunan Kalijaga memang menerima calon mahasiswa penyandang disabilitas. Namun, keberadaan mahasiswa disabilitas di kampus ini belum dibarengi dengan fasilitas yang memadai untuk mereka. Misalnya tangga yang ada di setiap fakultas, dari mulai lantai 1 sampai lantai 4, tidak didesain untuk mahasiswa disabilitas yang menggunakan kursi roda. Padahal bisa saja perkuliahan yang mereka ikuti tidak hanya dilaksanakan di lantai 1. Tentunya hal ini mengurangi kemandirian mahasiswa disabilitas, karena mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk mencapai ruangan yang berada di lantai 2, 3 atau 4. Walaupun mulai tahun 2013, UIN Sunan Kalijaga sudah membuat rambu-rambu dan merubah desain tangga agar dapat diakses oleh pengguna kursi roda, namun hanya di lantai dasar.
Melihat kondisi kampus UIN Sunan Kalijaga yang masih kurang aksesibel bagi mahasiswa disabilitas, membuat siapapun pasti akan mempertanyakan komitmen UIN Sunan Kalijaga dalam menjadikan kampus ini sebagai kampus inklusi. Menurut saya, kondisi ini disebabkan karena para pengambil kebijakan di UIN Sunan Kalijaga belum memahami sepenuhnya definisi kampus inklusi dan fasilitas-fasilitas yang perlu disediakan untuk mereka. Akhirnya desain arsitektur gedung pun tidak sesuai dengan kebutuhan mahasiswa disabilitas.
Perkenalan saya dengan PSLD yang juga merupakan tempat berkumpulnya mahasiswa disabilitas UIN Sunan Kalijaga, membuat saya mengenal kondisi mereka. Saya kagum dan terharu melihat mereka begitu mandiri. Dengan adanya PSLD, mahasiswa difabel netra pun sudah mampu mengoperasikan komputer dan menggunakan internet. Difabel netra juga mampu menggunakan handphone dan mampu berjalan sendiri untuk mengakses ruangan-ruangan dan gedung di UIN Sunan Kalijaga yang sudah mereka hafal lokasinya.
Setelah saya melihat dan berinteraksi dengan mereka di PSLD, saya berfikir dan membayangkan jika saya seperti mereka, sebenarnya yang saya perlukan adalah dukungan lingkungan untuk menyediakan fasilitas publik yang saya perlukan sebagai penyandang disabilitas yang dapat membuat saya bisa mandiri. Misalnya pemerintah menyediakan kendaraan umum yang memungkinkan pengguna kursi roda dapat dengan mudah dan nyaman mengaksesnya. Pemerintah membuat trotoar yang dapat membantu difabel netra dengan mudah dapat mengenali alur jalan. Selain itu, saya ingin diperlakukan seperti orang normal secara fisik biasanya, tidak perlu dikasihani.
Sebagai orang yang juga belajar di jenjang pendidikan formal maupun non formal, saya ingin bekerja secara profesional sesuai kemampuan keilmuan yang saya miliki dan memberikan kontribusi pada kemajuan bangsa. Maka untuk mewujudkan itu, salah satunya pemerintah perlu memberikan kesempatan penyandang disabilitas dapat berkarir di lembaga pemerintahan.
Kalau melihat kondisi fasilitas umum yang ada disekitar saya yaitu Jombor, Sleman (lokasi tempat tinggal) dan UIN Sunan Kalijaga yang berada di wilayah Kota Yogyakarta (lokasi tempat kerja), menurut saya belum nyaman dan mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Misalnya di terminal Jombor, Sleman, saya tidak melihat adanya toilet umum yang khusus untuk penyandang disabilitas pengguna kursi roda. Selain itu, trotoar juga tidak desain agar mudah untuk para difabel netra. Mengenai trotoar, di area dekat UIN Sunan Kalijaga juga kondisinya sama dengan di area Jombor. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah daerah pun dalam melakukan pembangunan kurang memperhatikan kebutuhan warganya yang penyandang disabilitas.
Oleh karena itu, saya mendukung kampanye peduli disabilitas yang dilakukan kartunet (www.kartunet.com) dan didukung XL (www.xl.co.id) untuk membuka perhatian berbagai pihak khususnya pemerintah guna meningkatkan kualitas fasilitas umum agar dapat dengan mudah dan nyaman diakses oleh para penyandang disabilitas.

http://euismarlina2014.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s